Oleh DrIsbah, Teras Jernang
Kisah Nabi Yunus a.s. dalam ayat 87 dan 88, Surah al-Anbiyaa’(21) merupakan ingatan Allah SWT kepada para pendakwah mengenai akibat meninggalkan kerja-kerja dakwah. Makalah ini menyorot persoalan itu melalui kisah Nabi Yunus a.s. sebagai iktibar atau ibrah kepada juru dakwah masa kini.
Dalam ayat 87, Surah al-Anbiyaa’(21), Allah SWT berfirman (وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبٗا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ), yang maksudnya, “Dan (sebutkanlah peristiwa) Zun-Nun, ketika ia pergi (meninggalkan kaumnya) dalam keadaan marah, yang menyebabkan ia menyangka bahawa Kami tidak akan mengenakannya kesusahan atau cubaan; (setelah berlaku kepadanya apa yang berlaku) maka ia pun menyeru dalam keadaan yang gelap-gelita dengan berkata: “Sesungguhnya tiada Tuhan (yang dapat menolong) melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolongkanlah daku)! Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri”. (Al-Anbiyaa’:87).
Dalam ayat 88, Surah al-Anbiyaa’(21), Allah SWT berfirman (فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ), yang maksudnya, “Maka Kami kabulkan permohonan doanya, dan Kami selamatkan dia dari kesusahan yang menyelubunginya; dan sebagaimana Kami menyelamatkannya Kami akan selamatkan orang-orang yang beriman (ketika mereka merayu kepada Kami).” (Al-Anbiyaa’ (21) : 88).
Ini adalah kisah Nabi Yunus a.s., kisah yang menjelaskan betapa besar kurnia yang Allah SWT berikan kepadanya Sebagaimana Allah SWT memberi nikmat dan memperkenankan doa para nabi yang telah disebutkan sebelumnya ketika mengalami kesedihan dan kepayahan, menghadapi berbagai hantaman yang berat, dan kesabaran mereka menjalani berbagai rintangan.
(وَذَا ٱلنُّونِ) Dan ingatlah kisah seorang nabi yang ditelan ikan paus, yaitu Yunus bin Mata.
(إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبٗا) Kepada kaumnya. Kata (إِذ) berkedudukan sebagai badal(ganti) dari kata sebelumnya. Maksudnya ketika ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya kerana kesukaran yang ia alami akibat perangai mereka. Nabi Yunus a.s. sudah cukup lama menyampaikan dakwahnya, tetapi mereka tetap keras kepala dengan kekufuran. Nabi Yunus a.s. pergi meninggalkan kaumnya sebelum diizinkan untuk pergi.
(فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ) Lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan menyukarkannya, seperti dalam ayat 26 surah ar-Ra’d: yang berarti menyempitkan. Juga seperti ayat 7 surah at- Thalaaq: yang berarti ia mengira bahwa Kami tidak akan menetapkan hukuman atas dirinya, dari akar kata (التَّقْدِيْرُ) yang artinya keputusan atau ketetapan. Kalimat ini merupakan bentuk perumpamaan.
Tingkahnya waktu itu seperti tingkah orang yang mengira bahwa Kami tidak akan mempersempit dirinya kerana pergi meninggalkan kaumnya tanpa menunggu perintah dari Allah SWT terlebih dahulu. Ini adalah bentuk-bentuk pentakwilan tentang ayat ini.
Boleh juga semata-mata bentuk bisikan syaitan, kemudian Nabi Yunus a.s. menepisnya dengan hujjah. Dan hal itu disebutkan sebagai zhann (dugaan, persangkaan) sebagai bentuk ungkapan hiperbola. Seperti firman Allah SWT kepada orang-orang Mukmin: “Dan kamu berprasangka yang bukan- bukan terhadap Allah.” (al-Ahzaab: 10)
Kesimpulannya bahwa Nabi Yunus a.s. pada dasarnya tidak memiliki zhann (persangkaan) seperti itu. Barangsiapa berprasangka tentang kelemahan Allah SWT, ia telah kafir.
(فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ) Lalu la berseru di dalam kegelapan yang sangat pekat, atau di dalam kegelapan perut ikan paus, kegelapan laut dan kegelapan malam.
(أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ) Bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. (سُبۡحَٰنَكَ) Mahasuci Engkau dari sesuatu yang melemahkan Zat-Mu. (إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ) Sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang berbuat zalim kerana terburu-buru pergi tanpa ada izin. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Sa’d r.a. dari Rasulullah saw. (مَا مِنْ مَكْرُوبٍ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ إِلَّا اسْتُجِيْبَ لَهُ) “Tiada seorang pun yang sedang dilanda kesulitan lalu berdoa dengan doa ini, melainkan doanya diijabah oleh-Nya.” (HR Baihaqi)
(فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ) Maka Kami perkenankan doanya disebabkan bacaan tersebut, lalu ikan paus yang menelannya memuntahkannya ke tepi pantai setelah empat jam berada di dalam perutnya. Ada keterangan yang menyebutkan tiga hari.
(مِنَ ٱلۡغَمِّۚ) Dari kesedihannya kerana berada dalam perut ikan paus dan kesalahan yang dilakukannya.
(وَكَذَٰلِكَ نُۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ) Seperti halnya Kami menyelamatkan Yunus a.s. ketika ia memohon kepada Kami dari kesedihan berada dalam perut ikan paus. Seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang Mukmin dari kesulitannya jika mereka memohon pertolongan kepada Kami.
(وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبٗا) Wahai Rasul, ingatlah kisah Yunus bin Mata a.s. ketika diutus oleh Allah SWT kepada penduduk negeri Ninawa (masuk wilayah Mushil) yang dipimpin oleh seorang raja bernama Hazqiya. Lalu Yunus a.s. menyeru mereka kepada Allah SWT, mengesakan-Nya, dan menaati-Nya. Namun, mereka menolak dan tetap berkeras di atas kekufuran. Kemudian Yunus a.s. pun pergi meninggalkan rumahnya dalam keadaan marah terhadap mereka serta mengancam mereka dengan azab.
Tatkala mereka menyedari bahwa ancaman Nabi Yunus a.s. adalah benar dan mereka tahu bahwa Yunus a.s. tidak berbohong, mereka pun pergi ke tengah sahara dengan membawa anak-anak dan binatang ternak mereka. Mereka memisahkan antara para ibu dan anak-anaknya. Kemudian mereka memohon dengan segala kerendahan hati kepada Allah SWT. Ketika itu, unta dan anaknya, sapi dan anaknya, kambing dan anaknya, semuanya ikut bersuara dan berteriak-teriak. Allah SWT pun mengangkat azab yang ada dari mereka, sebagaimana firman-Nya dalam ayat, “Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.” (Yuunus: 98)
Adapun Nabi Yunus a.s., ia pergi dengan naik sebuah perahu bersama sejumlah orang. Lalu perahu itu menjadi tidak stabil (oleng) dan mereka khawatir perahu tenggelam. Mereka pun melakukan pengundian untuk menentukan siapa di antara mereka yang mesti dicampakkan ke laut supaya muatan perahu menjadi ringan. Ternyata undian jatuh kepada Nabi Yunus a.s. sehingga mereka membatalkan hasil undian itu dan tidak ingin mencampakkannya ke laut. Lalu mereka melakukan pengundian lagi, tetapi undian tetap jatuh kepada Nabi Yunus a.s., sehingga mereka membatalkannya dan tidak ingin mencampakkannya ke laut. Dan mereka mengulangi pengundian untuk yang ketiga kalinya, tetapi lagi-lagi undian jatuh kepada Nabi Yunus a.s., sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam ayat, “Kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian).” (ash-Shaaffaat: 141)
Yakni undiannya jatuh kepada dirinya. Nabi Yunus a.s. pun berdiri, melepaskan baju, dan menerjunkan diri ke laut. Lalu Allah SWT mengirimkan seekor ikan paus yang berenang memecah lautan menuju kepada Nabi Yunus a.s. dan menelannya (Tafsir Ibnu Katsir, 3/191).
Kata (وَذَا ٱلنُّونِ) artinya adalah orang yang memiliki ikan paus. Dalam konteks inilah Nabi Yunus a.s. mendapat julukan Dzun Nuun.
Kata (مُغَٰضِبٗا) maksudnya adalah marah terhadap kaumnya kerana mereka mendustakannya dan azab yang ia ancamkan tidak jadi menimpa kaumnya kerana taubat yang tidak ia ketahui, bukan kerana benci terhadap hukum Allah SWT atau marah kepada-Nya.
Jika itu yang terjadi, ia telah melakukan dosa besar yang tidak selayaknya dilakukan oleh orang biasa apalagi oleh nabi. Jadi, ia marah atas nama Tuhannya, buktinya ia menyebut dirinya termasuk orang-orang yang zalim. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama.
(فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ) la mengira bahwa Kami tidak akan mempersempit dirinya di dalam perut ikan paus dan tidak akan menjatuhkan hukuman atasnya dari akar kata (اَلْقَدْرُ وَالتَّقْدِيْرُ) yang artinya adalah ketentuan dan ketetapan, seperti dalam ayat, “Maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan.” (al-Qamar: 12)
Langkah yang ia ambil untuk pergi menyerupai tingkah orang yang melarikan diri. (فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ) Lalu Nabi Yunus a.s. berdoa kepada Allah SWT di dalam kegelapan yang begitu pekat, atau di bawah tiga kegelapan; kegelapan perut ikan paus, kegelapan lautan, dan kegelapan malam, “Mahasuci Engkau ya Rabb, hanya Engkaulah Tuhan tiada sekutu bagi-Mu, Engkau berbuat apa saja yang Engkau kehendaki, dan menetapkan apa saja yang Engkau kehendaki. Tiada sesuatu pun baik di bumi maupun di langit yang berada di luar kuasa-Mu.”
(إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ) Sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang zalim dengan pergi tanpa ada perintah atau izin dari-Mu. Bagi para nabi tindakan seperti ini tergolong sebagai khilaaful aulaa (melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang lebih utama), dengan bukti ayat, “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih.” (al-Qalam: 48)
(فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُ) Maka Kami perkenankan doanya yang mengekspresikan penyesalan dan taubat.
(وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ) Dan Kami keluarkan Yunus a.s. dari dalam perut ikan paus dan dari kegelapan-kegelapan itu. Sebagaimana Kami menyelamatkannya dari kesedihan dan kesulitan. Begitulah Kami selamatkan orang-orang Mukmin yang bersungguh-sungguh ketika memohon pertolongan kepada Kami dan meminta rahmat Kami.
Al-Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkan dari Sa’d Ibnu Abi Waqqash r.a., Rasulullah saw. bersabda, (دَعْوَةُ ذِي النُّونِ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ثُمَّ يَدْعُ بِهَا مُسْلِمٌ رَبَّهُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ لَهُ) “Doa Dzun Nun (nabi Yunus a.s.) ketika ia berdoa pada ketika berada dalam perut ikan paus, Laa ilaaha illaa Anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiina’ (tiada Tuhan melainkan Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang zalim). Maka, tidak ada seorang Muslim pun yang berdoa kepada Tuhannya dengan doa ini menyangkut suatu hal, melainkan Tuhan memperkenankan doanya itu.” (HR Baihaqi)
Dalam doa ini, Dzun Nun mengawalinya dengan tauhid, kemudian tasbih dan pujian, kemudian istighfar dan pengakuan telah berbuat zalim (dosa) atas dirinya.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Anas r.a. dalam bentuk hadits yang di-marfuu’-kan kepada Rasulullah saw., (أَنَّ يُونُسَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ بَدَا لَهُ أَنْ يَدْعُو بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ، وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوْتِ قَالَ: اللَّهُمَّ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ، إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَأَقْبَلَتْ هَذِهِ الدَّعْوَةُ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ، صَوْتٌ ضَعِيفٌ مَعْرُوفٌ مِنْ بِلَادٍ غَرِيبَةٍ فَقَالَ: أَمَا تَعْرِفُونَ ذَاكَ؟ قَالُوا: لَا، يَا رَبِّ، وَمَنْ هُوَ؟ قَالَ: عَبْدِي يُونُسُ، قَالُوا: عَبْدُكَ يُونُسُ الَّذِي لَم يَزَلْ يَرْفَعُ لَهُ عَمَلٌ مُتَقَبَّلَ، وَدَعْوَةٌ مُحَابَةٌ، قَالُوا: يَا رَبِّ، أَوَلَا تَرْحَمُ مَا كَانَ يَصْنَعُ فِي الرَّحَاءِ، فَتَنْجِيْهِ مِنَ الْبَلَاءِ؟ قَالَ: بَلَى، فَأَمَرَ الْحُوْتَ، فَطَرَحَهُ فِي الْعَرَاءِ.) “Bahwa ketika terjelma(tebersit) keinginan Nabi Yunus a.s. untuk berdoa dengan bacaan tersebut ketika berada di dalam perut ikan paus, ia pun mengucapkan, ‘Allaahumma laa ilaaha illaa Anta, subhaanaka, innii kuntu minazh zhaalimiina’ (Ya Allah, tiada Tuhan melainkan Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang zalim). Sehingga doa tersebut datang di bawah Arsy, lalu malaikat berkata, “Ya Rabb, sebuah suara lemah yang sudah tidak asing lagi dari tempat yang asing: Lalu Allah SWT bertanya, ‘Apakah kalian tidak mengenalnya?” Mereka berkata, “Tidak ya Rabb, siapakah dia?’ Allah SWT menjawab, ‘Hambaku, Yunus. Mereka berkata, ‘Hamba-Mu Yunus yang selalu diterima amalannya dan dikabulkan doanya. Mereka kembali berkata, “Ya Rabb, tidakkah Engkau mengasihi atas apa yang ia kerjakan ketika dalam keadaan lapang sehingga Engkau berkenan menyelamatkannya dari bencana?” Allah SWT menjawab, “Ya. Kemudian Allah SWT mengarahkan kepada ikan paus untuk memuntahkannya ke daratan.”
Keadaan para nabi penuh dengan keajaiban, keunikan, dan mukjizat dari-Nya. Tidak sama seperti keadaan manusia biasa. Kisah Nabi Yunus a.s. termasuk di antara keajaiban-keajaiban yang unik tersebut.
Nabi Yunus a.s. pergi dalam keadaan marah atas nama Allah SWT, dan sudah semestinya seorang Mukmin marah atas nama-Nya jika Dia dimaksiati. Kemarahan Nabi Yunus a.s. pada masa itu menurut pendapat al-Qurthubi termasuk dosa kecil, dan Nabi Yunus a.s. tidak sedang marah kepada Allah SWT, tetapi ia marah atas nama Allah SWT, yakni ketika azab itu tidak jadi ditimpakan atas mereka.
Tidak mungkin seorang nabi marah kepada Tuhannya, sebab itu adalah perilaku orang bodoh dan tidak tahu bahwa Allah SWT adalah Penguasa mutlak atas perintah dan larangan. Orang yang bodoh dan tidak mengenal Allah SWT bukanlah seorang Mukmin, apa lagi seorang nabi.
Nabi Yunus a.s. ketika itu pergi dalam keadaan marah atas nama Tuhannya. Dia marah kerana kekufuran kaumnya kepada Tuhannya. Akan tetapi, memang yang lebih utama baginya adalah bersabar dan menunggu izin berhijrah dari Allah SWT Oleh kerana itu Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan paus,” (al-Qalam: 48)
Seakan Allah SWT menginginkan kedudukan yang lebih tinggi dan mulia untuk Nabi Muhammad saw..
Al-Qusyairi mengatakan bahwa yang paling jelas, kemarahan itu terjadi setelah Allah SWT mengutus Nabi Yunus a.s. dan setelah diangkatnya azab yang hampir ditimpakan kepada kaumnya disebabkan ia tidak ingin azab itu diangkat kembali dari mereka.
Ketika pergi, Nabi Yunus a.s. mengira bahwa Allah SWT tidak akan mempersempit dirinya dengan kurungan atau membuat ketetapan hukuman atas dirinya. Kata berasal dari akar kata (اَلْقَدْرُ) yang berarti ketetapan dan putusan. Kata ini boleh juga berarti mempersempit, seperti dalam ayat, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki).” (ar-Ra’d: 26)
Juga ayat, “Dan orang yang terbatas rezekinya.” (ath- Thalaaq: 7)
Dijelaskan bahwa (اَلتَّقْدِيْرُ) di sini juga berarti ketetapan, bukan kekuasaan atau kemampuan, seperti dalam ayat, “Maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan…” (al-Qamar: 12)
Ketika Nabi Yunus a.s. berada di kegelapan malam, kegelapan lautan dan kegelapan perut ikan paus, ia menyadari bahwa dirinya telah menzalimi diri sendiri dengan pergi tanpa izin, atau kerana tidak sabar menghadapi kaumnya. Hal seperti itu sama sekali tidak mengandung unsur hukuman dari Allah SWT kerana tidak mungkin para nabi mendapat hukuman. Akan tetapi, hal itu lebih sebagai penempaan dan pendidikan. Terkadang ada seseorang yang dididik, tetapi tidak berhak mendapatkan hukuman seperti anak kecil. Nabi Yunusa.s.pun memohon-mohon kepada Allah SWT dengan doa (لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ). Kemudian Allah SWT memuliakannya dan memelihara tubuhnya agar tidak dicerna oleh ikan paus. Perut ikan paus itu hanya sebagai tempat pengurungan saja. Allah SWT memerintahkan ikan paus untuk memuntahkan Nabi Yunus a.s. di tepi laut.
Dalam dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Dia akan memperkenankan doanya sebagaimana Dia memperkenankan doa Nabi Yunus a.s., serta menyelamatkannya sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus a.s..
Dan di antara kurnia dan rahmat Allah SWT yakni bahwa penyelamatan itu diberikan bagi orang yang memohon pertolongan dan perlindungan kepada-Nya, tidak hanya untuk Nabi Yunus a.s., tetapi bersifat umum mencakup setiap Mukmin yang memohon pertolongan dan memohon rahmat-Nya. Sebab Allah SWT akan membebaskan mereka dari kesulitan dengan amalan mereka sebelumnya. Itu seperti firman Allah SWT dalam ayat, “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Berbangkit.” (ash-Shaaffaat: 143-144)
Itulah bentuk penjagaan Allah SWT kepada hamba-Nya yang bernama Yunus a.s… Allah SWT menghargai haq penghambaannya dan mengingat ketaatan yang pernah dilakukannya.
Allah SWT memperkenankan permohonan orang-orang yang berdoa di mana pun. Oleh kerana itu, Rasulullah saw. bersabda, (لَا تُفَضِّلُونِي عَلَى يُونُسَ بْن مَتى فَإِنِّي لَمْ أَكُنْ، وَأَنَا في سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى بِأَقْرَبِ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ، وَهُوَ فِي قَعْرِالْبَحْرِ فِي بَطْنِ الْحُوتِ) “Janganlah kamu sekalian lebih mengunggul- kan aku atas Yunus bin Mata. Kerana aku ketika berada di Sidratul Muntaha tidaklah lebih dekat kepada Allah SWT daripada dirinya ketika ia berada di dasar lautan di dalam perut ikan paus.” (Bukhari, Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas r.a. dengan bentuk redaksi yang lain).
Ini menjadi dalil bahwa Allah SWT tidak berada di pihak tertentu.
Nabi Yunus berada dalam perut ikan Nun selama 3 hari dan 3 malam. Dia merasa kecewa mengenai penolakan dakwah Nabi Yunus oleh kaumnya seramai 100,000 orang. Beliau berasal dari Bani Israel, Namanya ialah Yunus bin Mata, keturunan Bunyamin (adik Nabi Yusof).
Oleh kerana kaumnya menolak dakwah beliau maka dia pun pergi meninggalkan kaumnya dan menaiki kapal, akhirnya kapal tersebut dipukul rebut, maka undian pun dilakukan terhadap para penumpang untuk mencampakkan mereka ke laut, undian dapat kepada Nabi Yunus, kemudian undian kali kedua pun terkena Nabi Yunus dan dibuat undian kali ketiga dan masih juga Nabi Yunus terkena undian.
Maka, terjunlah dia ke laut dan ditelan oleh ikan Paus atau ikan Dzun Nuun. Nabi Yunus dapati dia masih hidup dalam perut ikan. Ada berbagai versi mengenai lamanya dia tinggal dalam perut ikan. Ada yang mengatakan 3 hari, 7 hari, dan 40 hari. Hakikatnya Allah sahaja yang tahu. Nabi Yunus senentiasa bertasbih ketika berada dalam perut ikan.
Kaum Nabi Yunus bertaubat apabila melihat azab yang akan mereka terima. Azab itu tidak mengenai mereka kerana Allah menarik balik bala tersebut kerana mereka beriman. Hanya kaum Nabi Yunus sahaja azabnya ditangguh.
Ikan Paus pun memuntahkan Nabi Yunus di sebuah Pantai yang tandus dalam keadaan yang sangat lemah. Tiada tanaman dan makanan. Allah SWT menumbuhkan pokok labu untuk menjadi makanan Nabi Yunus. Pokok labu cepat tumbuh, menjalar dan menghasilkan buah besar. Buah labu tidak pernah dihinggap oleh lalat, boleh dimakan mentah atau masak.
Menurut [3], Nabi Yunus kembali kepada kaumnya dan berdakwah kepada mereka yang seramai lebih daripada 100,000 orang.
Beberapa pengajaran yang dapat kita ambil dari Kisah Nabi Yunus a.s. ialah:
Semoga kita dapat mengambil iktibar dari kisah dakwah Nabi Yunus a.s. Aamiin…
DrIsbah, Teras Jernang, 23-08-2025 / 29-SAF-1447H (Sabtu).
Rujukan:
[1] Tafsir Al-Munir Jilid 9 – Juzuk 17 & 18 (Bahasa Indonesia), dari mukasurat 124 hingga 129, ayat 87 dan 88, Surah Al-Anbiyaa’ (21).
[2] Tafsir Al-Azhar, ayat 87 dan 88, Surah Al-Anbiyaa’ (21).
[3] Buku Cabaran 25 Nabi dan Rasul.