Oleh : Dr Ismail Abdullah
Ringkasan: Dalam ayat 89 hingga 91, Surah al-Anbiyaa’(21), Allah SWT mengisahkan Sayyidah Maryam melahirkan Nabi Isa a.s. melalui cara yang sungguh Ajaib dan melalui perintah Allah. Penganut Kristan menamakan Sayyidah Maryam sebagai Bonda Maria. Kisah ini bermula dengan Nabi Zakariya a.s., dan kemudian Nabi Zakariya a.s. mendapat anak yang namanya Nabi Yahya. Makalah ini menghuraikan kisah mereka bertiga dari satu keluarga.
Dalam ayat 89, Surah al-Anbiyaa’(21), Allah SWT berfirman (وَزَكَرِيَّآ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ), yang maksudnya, “Dan (sebutkanlah peristiwa) Nabi Zakaria, ketika ia merayu kepada Tuhannya dengan berkata: “Wahai Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan daku seorang diri (dengan tidak meninggalkan zuriat); dan Engkaulah jua sebaik-baik yang mewarisi“. (Al-Anbiyaa’ (21) :89).
Dalam ayat 90, Surah al-Anbiyaa’(21), Allah SWT berfirman (فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ), yang maksudnya, “Maka Kami perkenankan doanya, dan Kami kurniakan kepadanya (anaknya) Yahya, dan Kami perelokkan keadaan isterinya yang mandul, (untuk melahirkan anak) baginya. (Kami limpahkan berbagai ihsan kepada Rasul-rasul itu ialah kerana) sesungguhnya mereka sentiasa berlumba-lumba dalam mengerjakan kebaikan, dan sentiasa berdoa kepada kami dengan penuh harapan serta gerun takut; dan mereka pula sentiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.” (Al-Anbiyaa’ (21) : 90).
Dalam ayat 91, Surah al-Anbiyaa’(21), Allah SWT berfirman (وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ), yang maksudnya, “Dan (sebutkanlah peristiwa) perempuan yang telah menjaga kehormatan dan kesuciannya; lalu Kami tiupkan padanya dari Roh (ciptaan) Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya sebagai satu tanda (yang menunjukkan kekuasaan Kami) bagi umat manusia.” (Al-Anbiyaa’ (21) : 91).
Setelah menjelaskan nikmat-nikmat khusus yang diberikan kepada masing-masing nabi, Allah SWT menjelaskan nikmat-Nya yang Dia berikan kepada Nabi Zakariya a.s. berupa anak dan keturunan ketika dia dan istrinya telah lanjut usia dan setelah dia merasakan kesepian tanpa anak. Dia pun berdoa kepada Tuhannya agar berkenan mengaruniainya anak. la ingin memiliki seseorang yang boleh menghilangkan kesepian dan mendukungnya dalam menjalankan urusan agama dan dunianya serta menggantikan dirinya kelak setelah meninggal dunia.
Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya a.s. adalah doa orang yang tulus ikhlas dengan penuh kesedaran bahwa Allah SWT Mahakuasa atas hal itu, sekalipun ia dan istrinya telah berusia lanjut dan istrinya sudah mencapai usia menopause dan tidak memiliki harapan untuk mengandung anak menurut hukum kebiasaan.
Ibnu Abbas r.a. mengatakan, “Usia nabi Zakariya a.s. waktu itu telah mencapai seratus tahun, sedangkan istrinya telah berusia sembilan puluh sembilan tahun.“
(وَزَكَرِيَّآ) Dan ingatlah kisah Nabi Zakariya a.s..
(إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُ) Kata ini berkedudukan sebagai badal (ganti) dari kata sebelumnya. Yakni, tatkala dia berdoa kepada Tuhannya dengan bacaan berikut.
(رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا) Ya Rabb, jangan Engkau biarkan hamba sendiri tanpa anak dan keturunan yang menjadi pewarisku. (وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ) Dan Engkau adalah sebaik-baik Pewaris Yang Kekal setelah kefanaan makhluk-Mu. Jika memang Engkau tidak mengurniaiku seorang anak yang mewarisiku, hamba tidak peduli.
(فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُ) Kami pun memperkenankan doanya.
(وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُ) Dan Kami jadikan istrinya hamil dan melahirkan anak, setelah sebelumnya mandul.
(إِنَّهُمۡ) Sesungguhnya para nabi yang telah disebutkan. (يُسَٰرِعُونَ) Mereka bersegera. (فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ) Dalam melakukan amal-amal ketaatan.
(رَغَبٗا) Dengan penuh pengharapan kepada rahmat Kami. (وَرَهَبٗاۖ) Dan dengan penuh ketakutan terhadap azab Kami.
(خَٰشِعِينَ) Orang-orang yang menundukkan diri dalam ibadah mereka.
(وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا) Dan ingatlah kisah Maryam a.s. yang memelihara kehormatannya baik dengan cara yang halal apalagi yang haram.
(فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا) Lalu Kami menjadikan Isa a.s. dan meletakkannya di dalam rahim Maryam. Boleh juga maksudnya dan melakukan peniupan melalui ruh Kami (Malaikat Jibril) kepada Maryam, dengan cara Jibril meniupkan melalui jaib bajunya (jaib adalah lubang bagian atas pakaian tempat masuknya kepala ketika mengenakannya), lalu tiupan itu masuk ke dalam tubuh Maryam.
(وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ) Dan Kami jadikan Maryam dan putranya sebagai ayat bagi manusia, jin dan malaikat, yaitu melahirkan putra tanpa seorang bapak.
Di sini, kata (ءَايَةٗ) disebut dalam bentuk mufrad, bukan tatsniyah, (ءَايَتَيْنِ) tidak seperti yang terdapat pada ayat, “Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua ayat.” (al-Israa”: 12).
Kerana gabungan dari keadaan mereka berdua itu adalah satu ayat (tanda), yaitu melahirkan putranya tanpa seorang bapak.
(وَزَكَرِيَّآ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ) Dan ingatlah wahai Rasul tentang kisah Zakariya a.s. tatkala ia memohon supaya Allah SWT mengaruniakan anak untuknya yang akan menjadi nabi setelahnya. Lalu ia memanjatkan doa kepada Tuhannya secara sembunyi-sembunyi dari kaumnya, “Ya Rabb, janganlah Engkau biarkan hamba sendirian tanpa anak dan tanpa pewaris yang menggantikan hamba dalam menjalankan misi dakwah mengajak manusia kepada-Mu, dan Engkau adalah Yang Mahakekal setelah kefanaan makhluk-Mu. Oleh kerana itu, jika memang Engkau tidak mengaruniakan kepada hamba seseorang yang menjadi pewaris hamba, hamba tidak peduli. Sebab Engkau adalah sebaik-baik Pewaris.” Kalimat (وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ) adalah doa sekaligus pujian.
(فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُ) Lalu Kami pun memperkenankan doa dan permohonannya itu. Kami mengaruniainya seorang anak bernama Yahya dan Kami hilangkan hal-hal yang menghalangi kehamilan dari istrinya sehingga ia pun boleh hamil dan melahirkan anak meski telah berusia lanjut dan sebelumnya mandul.
(إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ) Sesungguhnya para nabi yang telah disebutkan dalam surah ini, termasuk Zakariya a.s. dan istrinya, mereka semua adalah orang-orang yang bersegera kepada ketaatan dan mendekatkan diri kepada Kami. Mereka bergegas mengerjakan amal-amal ketaatan dan amal-amal pendekatan diri kepada Allah SWT.
Maksudnya bahwa mereka berhak diperkenankan doa dan permohonannya adalah kerana mereka merupakan orang-orang yang bersemangat dan bergegas memasuki pintu-pintu kebaikan dan menggapainya. Sebagaimana sikap orang-orang yang memiliki ambisi kepada urusan-urusan serius.
(وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ) Dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap kepada rahmat dan kurnia Kami, serta takut kepada azab dan hukuman Kami. Me- reka adalah orang-orang yang tunduk dan merendahkan diri kepada Kami.
Maknanya bahwa di samping mereka bergegas dan bersegera menjalankan amal-amal ketaatan, mereka juga menggabungkan dua hal. Pertama, bergegas kepada Allah SWT kerana mengharapkan pahala-Nya dan takut kepada hukuman-Nya.
Kedua, khusyu, yaitu perasaan takut yang tertanam dalam hati atau kecemasan yang senantiasa melekat dalam hati tanpa pernah terpisah darinya.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Hakim, ia berkata, “Abu Bakar ash-Shiddiq menyampaikan khutbah kepada kami, lalu berkata, ‘Ammaa ba’du, aku berwasiat kepada kalian agar senantiasa memelihara ketakwaan kepada Allah SWT, memanjatkan puji kepada-Nya dengan apa yang memang menjadi hak-Nya, membuat percampuran antara harapan dan kecemasan, menggabungkan sikap bersungguh-sungguh dengan doa dan permohonan. Sebab Allah SWT memuji Nabi Zakariya a.s. dan keluarganya dalam firman-Nya, “Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (al-Anbiyaa’: 90).
(وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا) Dan ingatlah kisah Maryam yang memelihara dirinya dari sentuhan kaum laki-laki, baik sentuhan yang halal maupun yang haram, sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam ayat, “Padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (Maryam: 20).
Sebagaimana firman-Nya, “Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami.” (at-Tahriim: 12)
(فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا) Lalu Kami tiupkan ruh kepada Isa di dalam rahimnya, yakni Kami menghidupkan Isa di dalam rahim Maryam. Ada yang perlu digarisbawahi bahwa dhamiir yang terdapat pada kata kembali kepada Maryam. Namun, maksudnya bukanlah menghidupkan Maryam, melainkan menghidupkan Isa yang berada dalam rahimnya.
Adapun dalam surah at-Tahriim (فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا) maka dhamiir yang terdapat pada kata (فِيهَا) kembali kepada kemaluan Maryam. (فَنَفَخۡنَا فِي فَرۡجَهَا) Ada versi qiraa’aat yang membaca (فِيهَا) yakni, meniupkan ke dalam tubuh Maryam atau rahimnya.
Kata (مِن رُّوحِنَا) dalam surah al-Anbiyaa’ dan surah at-Tahriim maksudnya dari ruh yang Kami ciptakan tanpa perantara seorang bapak. Di sini, kata ruh disandarkan kepada Allah SWT sebagai bentuk pemuliaan.
(وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ) Dan Kami jadikan perkara Maryam dan putranya; Isa a.s., yaitu hamil tanpa seorang laki-laki (bapak), sebagai bukti dan mukjizat bahwa Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia menciptakan apa saja sesuai kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia cukup mengatakan (كُنْ فَيَكُوْنُ).
Di antara ayat yang memiliki makna serupa adalah, “Dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia.” (Maryam: 21)
Di sini tidak digunakan bentuk tatsniyah, (ءَايَتَيْنِ) tetapi mufrad (ءَايَةٗ), sebab makna ayat ini “dan Kami jadikan urusan dan kisah Maryam a.s. dan Isa a.s. sebagai ayat bagi seluruh alam.” Ayat tersebut hanya ada satu di dunia (memiliki anak tanpa laki-laki).
Kata (لِّلۡعَٰلَمِينَ) maksudnya jin, manusia, dan malaikat.
Ada ayat-ayat lain yang dimiliki oleh Maryam dan Nabi Isa a.s., seperti malaikat datang dengan perbekalan untuk Maryam, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” (Aali ‘Imraan: 37)
Adapun mukjizat Isa a.s. adalah mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, menyembuhkan orang yang menderita penyakit kusta, dan menghidupkan kembali orang yang telah mati, semuanya dengan izin Allah SWT seperti yang dijelaskan dalam surah Aali ‘Imraan ayat 49.
Sesungguhnya di dalam kisah Zakariya a.s. dengan putranya, Yahya a.s., dan kisah Maryam dengan putranya, Isa a.s., terdapat ayat dan mukjizat luar biasa yang membuktikan kekuasaan Allah SWT yang mutlak dan menyeluruh meliputi segala sesuatu.
Adapun kisah Nabi Zakariya a.s., Allah SWT memuliakannya dan memberinya sebuah kehormatan dengan kelahiran seorang putra bernama Yahya a.s. setelah memanjatkan doa dan memohon dengan tulus dan sungguh- sungguh, serta penuh etika dan kepasrahan kepada Allah SWT Hal itu terjadi ketika ia dan istrinya berusia lanjut, ditambah istrinya juga mandul belum pernah melahirkan anak ketika masih muda.
Ayat yang dimaksudkan di sini adalah bahwa orang yang lanjut usia biasanya tidak boleh hamil lagi, dan perempuan yang mandul biasanya tidak boleh hamil dan memiliki anak. Kemudian Allah SWT menghilangkan hal-hal yang menghalangi kehamilan serta memberikan kemampuan kepada Zakariya a.s. untuk menghamili dan membuahi.
Sebab dikabulkannya doa Nabi Zakariya a.s. kerana ia sama seperti para nabi lainnya, yakni senantiasa bersegera menjalankan ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah SWT, berdoa baik di kala lapang maupun sempit, senang dan susah, dengan penuh pengharapan dan kecemasan kepada Rahmat dan kurnia Allah SWT, serta cemas dan takut kepada azab dan hukuman-Nya. Sebab harapan dan kecemasan adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Adapun Maryam yang perawan dan suci adalah perempuan yang memelihara kehormatannya secara total dari yang halal apalagi yang haram, tanpa ada seorang laki-laki pun yang mendekatinya. Kemudian terjadilah peniupan ruh ke dalam rahimnya dan dibentuklah Isa a.s. tanpa laki-laki melalui perantara Jibril a.s. ruhul qudus.
Ayat (فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا) maknanya Kami memerintahkan Malaikat Jibril a.s. untuk meniup pada gamis Maryam a.s.. Lalu dengan peniupan itu Kami bentuk al-Masih di dalam rahimnya. Tiupan itu sampai ke dalam tubuhnya dan ruh yang ditiupkan mengalir ke farjinya. Itu menjadi bukti dan keajaiban bagi makhluk tentang kenabian Isa a.s., sekaligus bukti berlakunya kuasa Kami terhadap apa yang Kami kehendaki.
Mukjizat yang dimiliki Maryam cukup banyak seperti yang sudah disinggung.
Adapun ayat-ayat tentang Nabi Isa a.s., penjelasannya sudah disebutkan di bagian terdahulu dalam surah Aali ‘Imraan.
Semua ayat-ayat tersebut adalah atas izin dan perintah Allah SWT Manusia sama sekali tiada memiliki kuasa apa pun di samping kuasa, pengaturan dan hikmah Allah SWT.
Semoga kita dapat mengetahui betapa hebatnya kuasa Allah SWT dalam melaksanakan kehendak-Nya. Aamiin…DrIsbah, Teras Jernang, 24-08-2025 / 30-SAF-1447H (Ahad).
Rujukan:
[1] Tafsir Al-Munir Jilid 9 – Juzuk 17 & 18, ayat 89 hingga 91, Surah Al-Anbiyaa’ (21).
[2] Tafsir Al-Azhar, ayat 89 hingga 91, Surah Al-Anbiyaa’ (21).