WADAH PENCERDASAN UMMAH
WADAH PENCERDASAN UMMAH

PROSES PENCIPTAAN MANUSIA BERDASARKAN AL-QURAN

Oleh : Dr Ismail Abdullah

Ringkasan: Dalam ayat 5, Surah al-Hajj (22), Allah SWT menceritakan mengenai proses penciptaan manusia sejak awal sehinggalah tua nyanyuk. Makalah ini menghuraikan berdasarkan beberapa tafsir dan buku yang berkaitan.

Dalam ayat 5 (Al-Hajj), Allah SWT berfirman, (يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡ‍ٔٗاۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ), yang maksudnya, “Wahai umat manusia, sekiranya kamu menaruh syak (ragu-ragu) tentang kebangkitan makhluk (hidup semula pada hari kiamat), maka (perhatilah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging yang disempurnakan kejadiannya dan yang tidak disempurnakan; (Kami jadikan secara yang demikian) kerana Kami hendak menerangkan kepada kamu (kekuasaan Kami); dan Kami pula menetapkan dalam kandungan rahim (ibu yang mengandung itu) apa yang Kami rancangkan hingga ke suatu masa yang ditentukan lahirnya; kemudian Kami mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian (kamu dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang dimatikan (semasa kecil atau semasa dewasa) dan ada pula yang dilanjutkan umurnya ke peringkat tua nyanyuk sehingga ia tidak mengetahui lagi akan sesuatu yang telah diketahuinya dahulu. Dan (ingatlah satu bukti lagi); Engkau melihat bumi itu kering, kemudian apabila Kami menurunkan hujan menimpanya, bergeraklah tanahnya (dengan tumbuh-tumbuhan yang merecup tumbuh), dan gembur membusutlah ia, serta ia pula menumbuhkan berjenis-jenis tanaman yang indah permai.” (Al-Hajj (22) : 5).

Dalam ayat 5, Surah al-Hajj, Allah SWT mengemukakan dalil mengenai penciptaan manusia, di sini Allah SWT berfirman, (فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ), yang bermakna, maka (perhatilah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah.

Dalam sejumlah ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali.” (Yaasiin: 79).

“Maka mereka akan bertanya, ‘Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pertama kali.” (al-Israa’: 51)

Cerakinan Ayat

(يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ) Wahai penduduk Mekah dan semua orang yang seperti kalian. (فِي رَيۡبٖ) Dalam keraguan. (مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ) Terhadap ba’ts sebagai sesuatu yang sangat mungkin dan sangat boleh dilakukan. (فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم), coba lihat dan perhatikan awal penciptaan kalian dan nenek moyang kalian Adam a.s… Sebab hal itu akan menyingkirkan keraguan kalian itu.

(مِّن تُرَابٖ), penciptaan Adam a.s. dari tanah, serta penciptaan makanan, dan zat makanan yang selanjutnya membentuk sperma.
(مِن نُّطۡفَةٖ), sperma, yaitu sesuatu yang keluar dari sulbi laki-laki ketika pancutan sperma. Sperma disebut nuthfah kerana jumlahnya sedikit. Diambil dari kata (اَلنَّطۡفُ) yang artinya satu tetesan.

(مِنۡ عَلَقَةٖ), segumpal darah padat. (مِن مُّضۡغَةٖ), segumpal daging seukuran satu suapan. (مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ), yang dibentuk mengikuti corak-corak penciptaan dan ada yang tidak dibentuk. Ada yang disempurnakan penciptaannya secara utuh tanpa ada kekurangan dan cacat dan ada yang tidak disempurnakan penciptaannya.

(لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ), agar Kami jelaskan kepada kalian dengan tahapan-tahapan penciptaan itu tentang kesempurnaan dan keseluruhan kuasa dan hikmah Kami supaya awal penciptaan seperti itu boleh kalian jadikan sebagai landasan dalil yang membuktikan bahwa ciptaan itu boleh diulang dan dikembalikan lagi.

(وَنُقِرُّ), dan Kami tetapkan. Ini adalah permulaan perkataan baru. (مَا نَشَآءُ), apa yang Kami kehendaki untuk Kami tetapkan dalam Rahim. (إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى) Sampal batas waktu yang ditentukan, yaitu waktu kelahiran. Paling sedikit adalah setelah enam bulan, rata-rata sembilan bulan, sedangkan paling lama menurut para ahli adalah satu tahun.

(ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا), kalimat ini di-athaf-kan kepada kalimat (نُقِرُّ). Maksudnya Kami mengeluarkan kalian dari rahim ibu kalian sebagai bayi.

(ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ) Kemudian Kami panjangkan umur kalian agar dapat mencapai usia kedewasaan yang sempurna, yaitu kisaran usia antara tiga puluh hingga empat puluh tahun.

Kata (الأَشُدُّ) artinya kedewasaan fisik, akal, dan pikiran. Kata ini merupakan bentuk jamak dari (شِدَّةٌ) seperti kata (الأَنْعُمُ) yang merupakan bentuk jamak dari (النِّعْمَةُ). Az-Zamakhsyari menuturkan, kata ini merupakan salah satu bentuk kata jamak yang bentuk kata tunggalnya tidak biasa digunakan, seperti kata (اَلْبَاطِلُ), (اَلْقُتُوْدُ), (الأَسِدَّةُ) dan yang lainnya.

(وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ) Dan di antara kalian ada yang mati sebelum mencapai kesempurnaan usia dewasa.

(أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ) Usia yang paling rendah dan buruk kerana lanjut usia, tua bangka, dan nyanyuk.

(لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡ‍ٔٗاۚ) Supaya ia Kembali seperti keadaan ketika pertama kali berada pada usia anak-anak berupa akal pikiran yang belum sempurna dan minim pemahaman. Oleh kerana itu, ia lupa apa yang sebelumnya pernah ia ketahui dan tidak mengenal lagi orang yang sebelumnya ia kenal. Ikrimah mengatakan, “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an, ia tidak mengalami keadaan kenyanyukan seperti itu.”

Ayat ini memberi penjelasan tentang fasa-fasa kejadian manusia. Mulai dari bayi yang tidak tahu apa-apa dan lemah, kemudian beranjak dewasa, mengetahui banyak hal dan mampu melakukan banyak hal, kemudian kembali lagi kepada keadaan lemah, tidak berdaya dan tidak tahu apa-apa. Zat Yang Kuasa atas hal seperti itu tentu juga Kuasa atas hal-hal lain yang serupa.

Tafsir dan Penjelasan

Setelah menyebutkan sikap orang yang ingkar dan tidak mempercayai adanya ba’ts, Allah SWT memaparkan dalil-dalil tentang kuasa-Nya untuk menghidupkan kembali yang telah mati. Dalil itu berupa penciptaan makhluk pada kali pertama.

(يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ) wahai orang-orang musyrik yang mengingkari, menyangkal, dan tidak mempercayai adanya ba’ts, jika kalian memang masih meragukan tentang kemungkinan dan kedatangan ba’ts (hari kiamat), coba lihat dan perhatikan awal permulaan penciptaan kalian. Barangsiapa yang mampu memulai, tentu ia juga mampu untuk mengulangnya kembali. Zat Yang Kuasa menciptakan pada kali pertama sudah tentu Kuasa mengulang dan mengembalikannya lagi. Sesuai dengan dalil tujuh fasa yang dilalui oleh manusia dalam kehidupannya.

Pertama, (فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ) Kami menciptakan moyang kalian Adam a.s. dari tanah dan Kami menciptakan makanan dan zat makanan dari tumbuh-tumbuhan yang lahir dari air dan tanah yang dari makanan dan zat makanan itulah sperma terbentuk.

Kedua, (ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ) Kemudian proses pengembangbiakan berjalan melalui perantaraan sperma yang terbentuk dari makanan dan zat makanan yang tumbuh dari tanah.

Ketiga, (ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ) Kemudian dengan izin Allah SWT, setelah empat puluh hari sperma itu berubah menjadi segumpal darah kental atau padat.

Keempat, (ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ) Kemudian segumpal darah tersebut berubah menjadi segumpal daging. Segumpal daging itulah yang selanjutnya mengalami proses pembentukan hingga berwujud janin yang sempurna dan utuh bentuk fisiknya.
Ada pula janin yang tidak sampai pada proses pembentukan hingga sempurna sehingga perempuan yang bersangkutan mengalami keguguran, baik itu masih berbentuk gumpalan daging maupun sudah ada tanda-tanda pembentukan. Ada pula yang tetap mengalami proses pembentukan hingga lahir sebagai bayi, tetapi bentuknya tidak sempurna sehingga terlahir cacat.

Ar-Razi menuturkan bahwa ayat (مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ) mesti dilihat dalam huraian segumpal daging yang akan menjadi manusia.
Sebab pada awal ayat, Allah SWT berfirman (إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم). Permulaan ayat ini memberikan pengertian bahwa terlalu jauh jika memahami kalimat (وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ) dalam huraian arti keguguran.

Intinya bahwa kata (مُخَلَّقَةٖ) adalah segumpal daging yang sempurna dalam pengertian tidak memiliki kekurangan dan cacat. Sedangkan, kata (وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ) adalah yang tidak sempurna, dalam artian memiliki kekurangan dan cacat.

(لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ) Kami menciptakan kalian dengan cara beransur-ansur dengan tujuan untuk menjelaskan kepada kalian tentang kesempurnaan kuasa dan hikmah Kami. Oleh kerana itu, kalian boleh menjadikan hal itu sebagai dalil tentang adanya ba’ts. Ba’ts adalah hal yang sangat mungkin. Sebab Zat Yang Kuasa menciptakan manusia dari tanah pada awal mulanya, kemudian menjadi sperma pada fasa kedua, sementara tidak ada kaitan simetri antara air dan tanah dan Kuasa membuat sperma menjadi segumpal darah, sementara sperma dan segumpal darah adalah dua hal yang sangat berbeza. Kemudian membuat segumpal darah itu menjadi segumpal daging. Kemudian membuat segumpal daging itu menjadi tulang, sudah pasti Dia juga Kuasa untuk mengulang kembali apa yang Dia mulai. Bahkan, mengulang kembali itu jauh lebih mudah. Hal ini sebagaimana keterangan yang dikatakan oleh az-Zamakhsyari.

Kelima, (ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا) Kemudian Kami mengeluarkan kalian dari rahim ibu kalian dalam wujud sebagai bayi merah yang lemah fisik, akal, dan indranya. Kemudian tiap-tiap bayi mulai tumbuh berkembang dan diberi oleh Allah SWT kekuatan dan kemampuan sedikit demi sedikit.

Keenam, (ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ) Kemudian kekuatan dan kemampuan fisik dan akal kalian pun tumbuh berkembang semakin sempurna hingga kalian mencapai batas kesempurnaan kekuatan dan kegagahan pemuda.

Ketujuh, (وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡ‍ٔٗاۚ) Di antara kalian ada yang mati sebelum mencapai batas kedewasaan atau ketika masih muda dan kuat. Ada pula yang hidup hingga mencapai usia lanjut, kerentaan, kelemahan fisik, akal dan pemahaman, serta kenyanyukan sehingga ia kembali lagi kepada keadaan yang pernah dialaminya ketika masih anak-anak, yaitu lemah, tidak berdaya, kurang akal dan minim pemahaman, lupa terhadap apa yang pernah ia ketahui sebelumnya, 

sebagaimana firman Allah SWT, “Dan barangsiapa Kami panjangkan umur- nya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya).” (Yaasiin: 68)

Kesimpulannya bahwa proses penciptaan yang melalui fasa-fasa tersebut serta terjadinya kematian dan munculnya berbagai keadaan yang dilalui manusia itu menjadi dalil yang tak terbantahkan tentang wujud Khaliq Yang Mahakuasa lagi Maha Mengawasi, Yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya kembali. Bahkan mengulang kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya menurut analogi dan logika, sebagaimana firman Allah SWT, “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (ar-Ruum: 54)

Kesimpulan dan pengajaran

Zat Yang menciptakan asal-usul manusia dari tanah, kemudian dari sperma yang terbentuk dari makanan dan nutrisi yang tumbuh dari tanah, merawat sperma itu hingga akhirnya Dia membentuk dan menjadikannya makhluk dalam bentuk yang sebaik-baiknya, mengembalikannya ke keadaan lemah, tentu Dia juga Kuasa untuk mengulang lagi ciptaan-Nya, memperadakannya dan membentuknya lagi, “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (Yaasiin: 82)

As-Sunnah memaparkan fasa penciptaan. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda kepada kami, dan beliau adalah sosok yang jujur dan dipercaya, (إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةٌ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتُبِ رِزْقِهِ وَأَحَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ) “Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu juga, yaitu selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging seperti itu juga, yaitu selama empat puluh hari. Kemudian Allah SWT mengirim seorang malaikat kepadanya, lalu ia meniupkan ruh ke dalamnya, dan memerintahkan malaikat itu untuk menuliskan empat kata, yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasibnya apakah termasuk orang yang bahagia ataukah celaka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, (يُجْمَعُ خَلْقُ أَحَدِكُمْ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا عَلَقَةً ثُمَّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مُضْغَةً ثم يُبْعَثُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوح) “Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah. Kemudian empat puluh hari dalam bentuk segumpal darah. Kemudian empat puluh hari dalam bentuk segumpal daging. Kemudian malaikat diutus, lalu meniupkan ruh ke dalamnya.”

Fasa awal janin adalah empat bulan. Ibnu Abbas r.a. mengatakan, pada sepuluh hari setelah empat bulan, dilakukan peniupan ruh ke dalam janin. Oleh kerana itu, masa iddah seorang istri yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari.

Perlu digarisbawahi bahwa penciptaan dan pembentukan yang dinisbahkan kepada malaikat sebenarnya hanyalah penisbahan yang bersifat majaz bukan dalam arti yang sesungguhnya. Proses peniupan itu adalah sebab Allah SWT menciptakan ruh dan kehidupan. Penciptaan adalah kuasa, kreasi dan inovasi Allah SWT, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu,” (al-A’raaf: 11)

“Dan membentukmu lalu memperindah rupamu.” (al-Mu’min: 64). “Maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah.” (al-Hajj: 5)

Kehidupan pada sperma ketika bertemu dengan sel telur adalah kehidupan pertumbuhan sel.

Para ulama tidak berselisih bahwa peniupan ruh kehidupan ke janin terjadi setelah seratus dua puluh hari, yakni setelah sempurna empat bulan dan masuk bulan kelima.

Oleh kerana itu, nuthfah secara yakin bukanlah apa-apa dan tidak diperhitungkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Qurthubi bahwa tidak ada suatu hukum yang berkaitan dengannya ketika seorang perempuan mengeluarkan nuthfah itu ketika tidak berkumpul dalam rahim, sama seperti jika seandainya nuthfah itu berada di shulbi laki-laki. Jika seorang perempuan mengeluarkannya ketika sudah berbentuk ‘alaqah (segumpal darah), berarti sudah boleh dipastikan bahwa nuthfah yang ada telah menetap dan mengalami proses perubahan menjadi bakal janin atau calon anak. Jika yang keluar ketika mengalami keguguran sudah berbentuk gumpalan darah atau daging, berarti perempuan tersebut sudah boleh disebut melahirkan kandungan, rahim menjadi bersih, iddah secara automatik sudah berakhir, dan status sebagai ummul walad tertetapkan untuk si perempuan itu.
Ini adalah pendapat Imam Malik dan rakan-rakannya.

Sementara, Imam asy-Syafi’i mengatakan, keguguran ‘alaqah tidak masuk hitungan sama sekali. Justru yang di- hitung adalah jika sudah mulai tampak pembentukan fisik atau jika yang keluar berupa segumpal daging yang sudah mulai mengalami pembentukan (kurang dari empat bulan (Tafsir al-Qurthubi, 12/8).

Ibnu Zaid mengatakan, (الْمُخَلَّفَةُ) adalah segumpal daging yang telah membentuk kepala, dua tangan, dan dua kaki.
Imam Malik mengatakan, apa yang dikeluarkan oleh seorang perempuan berupa mudhghah atau ‘alaqah atau dalam bentuk sesuatu yang sudah boleh diyakini bahwa itu adalah anak. Ketika perutnya mengalami pemukulan, ia sudah wajib membayar ghurrah (Ghurrah adalah diyat janin, yang nilai tukarnya mencapai seperduapuluh diyat, yakni lima puluh dinar).

Sementara itu Imam asy-Syafi’i mengatakan, tidak ada kewajiban membayar apa-apa dalam kes tersebut hingga apa yang keluar sudah ada tanda-tanda pembentukannya.

Imam Malik mengatakan, apabila ada janin yang mengalami keguguran (kerana suatu kekerasan fisik) ketika keluar tidak mengeluarkan suara tangisan, dendanya adalah ghurrah. Jika mengeluarkan suara tangisan, dalam hal ini Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i sama-sama mengatakan, dendanya adalah diyat penuh.

Al-Qadhi Isma’il menuturkan bahwa iddah seorang perempuan berakhir dengan terjadinya keguguran. Sebab yang keluar ketika keguguran termasuk al-Haml (kandungan), sementara Allah SWT berfirman, “Sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu sampai mereka melahirkan kandungannya.” (at-Thalaaq: 4)

Sementara itu, Ibnul Arabi mengatakan, tiada suatu hukum apa pun yang berkaitan dengan kejadian itu, kecuali sesuatu yang keluar sudah berupa segumpal daging yang sudah mulai terbentuk (mukhallaq). Sebab Allah SWT berfirman, (فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ) (Ahkaamul Qur’aan, 3/1261).

Sesungguhnya di dalam fasa penciptaan manusia benar-benar terdapat dalil dan informasi yang sangat jelas tanpa boleh dibantah lagi tentang kesempurnaan kuasa Allah SWT
Perawatan Allah SWT kepada manusia dimulai sejak pembentukannya, kelahirannya sebagai bayi merah, hingga ia tumbuh menjadi manusia yang sempurna fisik, akal, dan kekuatannya pada usia muda. Itu adalah nikmat yang mesti disyukuri dan dihargai.

Ketika manusia telah mencapai usia lanjut dan renta, ada sebagian yang tidak mengalami kepikunan dan ada sebagian lainnya yang mengalami kepikunan. Semua itu menunjukkan tentang kebebasan. tindakan Allah SWT terhadap makhluk-Nya kerana Dia bebas melakukan apa saja terhadap makhluk-Nya. Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Sa’d r.a., memanjatkan doa seperti berikut, (اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الجبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ) “Ya Allah, hamba berlindung kepada-Mu dari sikap kikir, hamba berlindung kepada-Mu dari sikap penakut dan pengecut, hamba berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada ardzalil umuri (umur lanjut usia disertai kepikunan dan ketua rentaan), hamba berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan hamba berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (HR an-Nasa’i)
Ada dalil lain yang lebih kuat tentang ba’ts, yaitu penciptaan tumbuh-tumbuhan dari tanah yang sebelumnya gersang dan mati ketika Allah SWT menurunkan air pada tanah tersebut. Lalu bermunculan dari tanah itu tanaman, tumbuh-tumbuhan, dan buah-buahan yang terlihat indah. menawan, memiliki warna yang elok, bau yang harum segar semerbak, dan rasa yang nikmat.

Sesungguhnya penciptaan manusia dan tumbuh-tumbuhan terjadi kerana Allah SWT Dia-lah sebab di balik terjadinya penciptaan manusia dan tumbuh-tumbuhan itu. Seandainya bukan kerana Allah SWT, tidak mungkin boleh diasumsikan keberadaan manusia dan tumbuh-tumbuhan tersebut. Sebab Allah SWT adalah al-Haqq, yakni Yang pasti dan tetap wujud-Nya. Dia Kuasa menghidupkan yang mati dan Kuasa atas segala hal. Dia Mahabijaksana Yang tidak akan melanggar janji-Nya. Dia telah menjanjikan adanya hari Kiamat dan ba’ts, Dia pasti memenuhi janji-Nya itu. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, Mahakuasa untuk menyatukan bagian-bagian atom manusia yang terserak di penjuru bumi, di bawah dasar lautan, di dalam perut binatang, atau di mana pun ia berada.

Semoga kita dapat memahami proses penciptaan manusia oleh Allah SWT, betapa mudah bagi Allah SWT menghidupkan semua manusia yang sudah mati di akhirat nanti. Aamiin…

DrIsbah, Teras Jernang, 07-09-2025 / 14-RAW-1447H (Ahad).

Rujukan:

[1] Tafsir Al-Munir Jilid 9 – Juzuk 17 & 18, ayat 5 hingga 7, Surah Al-Hajj (22).

[2] Tafsir Al-Azhar, ayat 5 hingga 7, Surah Al-Hajj (22).

Pencerdasan 2024 Hak Cipta Terpelihara