Pada detik bersejarah ini marilah kita berkongsi rasa bahagia dan sama-sama melafazkan tahmid kesyukuran – al-ḥamdu li ‘Llâh – yang dengan izin dan perkenan-Nya saudara-saudara berjaya menjadi graduan Dar al-Hikmah. Atas nama seluruh warga institusi tercinta ini kami rakamkan tahniah dan do‘a kejayaan untuk para graduan, ibu bapa dan semua yang berperanserta dalam menciptakan kejayaan ini. Apa pun kata orang tentang nilai selembar diploma, anda mempunyai alasan tersendiri untuk berasa bangga memiliki diploma Dar al-Hikmah:
Bukan delima sebarang delima
Delima merah masak merekah
Bukan diploma sebarang diploma
Diploma al-Hikmah megah bertuah.
Justeru, Dar al-Hikmah adalah institusi jelmaan aspirasi umat, pengemban amanah pendidikan generasi ulu ‘l-albâb: manusia cendekia, ilmuwan budiman, the possessors of wisdom. KDH tidak lahir dari serakah kapitalis pengaut keuntungan, tetapi lahir dalam takbir sumpah perjuangan mengangkat martabat umat dengan iman dan ilmu, diilhami ayat “… Allah mengangkat martabat mereka yang beriman dan yang diberi ilmu di antara kamu beberapa darajat,…” (al-Mujâdilah: 11). Demikianlah hakikat Dar al-Hikmah sebagai translation of our deepest conviction, terjemahan aktual keyakinan kami yang terdalam bahawa pengangkatan martabat umat harus didasari dua tonggak asasi: kekentalan iman dan kekuatan intelektual. Dengan kata lain, masyarakat yang bermartabat adalah masyarakat yang religius dan berbudaya ilmu. Andainya iman tidak diperkuat, malah sebaliknya dilemahkan dengan budaya hedonistik dan hiburan berunsur maksiat yang melampau-lampau; andainya kekuatan keintelektualan umat dilumpuhkan dengan menumpulkan daya kritisnya; maka cakap-cakap besar dan gagasan-gagasan ambisius pemartabatan bangsa pada hakikatnya tidak akan lebih daripada sekadar lipur lara, sandiwara slogan-sloganan. Iman dan ilmu sebagai asas pengangkatan martabat adalah ketetapan hukum sunnatullâh yang tidak akan berubah. Kerana itu orientasi pengajian di KDH selamanya berteraskan kedua-dua asas tersebut. Dalam era pesona sains teknologi ketika ini, tidak sedikit orang yang terpukau lalu kehilangan keseimbangan sehingga mengakibatkan leluasanya gejala too much science, too little faith.
Paduan harmonis dan seimbang antara iman dan ilmu itulah konsep yang terkandung dalam istilah ulu ‘l-albâb, ungkapan Qur’ani yang kami angkat sebagai kata kunci falsafah pendidikan KDH sejak detik pertama kewujudannya dengan nama Institut Pengajian Ilmu-ilmu Islam (IPI). Ulu ‘l-albâb adalah ilmuwan rabbani yang memadukan zikir dengan fikir. Demikianlah pemerian Ilahi tentang ulu ‘l-albâb dalam kitab suci-Nya (Âli `Imrân: 191). Zikir adalah manifestasi iman, sementara fikir adalah ciri keilmuan. Manusia yang mengingati Allah sepanjang masa dalam semua keadaan (qiyâman wa qu‘ûdan wa ‘alâ junûbihim), tidak lain adalah manusia mukmin yang God conscious, manusia religius yang menghayati petunjuk Ilahi dalam semua urusan, doing everything religiously. Manusia yang memikirkan rahsia alam ciptaan Tuhan, langitnya dan buminya adalah ilmuwan yang dengan ketajaman daya renung keintelektualannya dapat menyaksikan hakikat kebesaran dan keesaan Tuhan, terpegun dengan keindahan karya Ilahi, kagum dengan keserbagunaan alam ciptaan-Nya yang memancarkan hakikat kemahasucian Allah daripada segala sifat kekurangan; lalu sujud dalam keyakinan iman, gementar ketakutan menghadapi ancaman siksa neraka andainya ia sampai lupa diri menjadi makhluk kerdil yang berani derhaka, mencemari kekudusan tasbih warga alam termasuk makhluk setinggi langit, seluas bumi, segagah gunung yang semuanya tunduk patuh pada perintah Yang Maha Esa. Demikianlah penjelajahan keintelektualan kaum ulu ‘l-albâb yang berhujung dengan keimanan dan ketakutan (kepada Allah), yang diekspresikan lewat tasbih dan do‘a subḥânaka faqinâ ‘adhâba ‘n-nâr (Maha Suci Allah, selamatkan kami daripada dera api neraka). Maha benarlah Tuhan yang berfirman “Sesungguhnya yang takut kepada Allah daripada khalayak hamba-Nya adalah para ilmuwan” (Fâtir: 28).
Pendidikan dapat menjadi wahana penting pemartabatan bangsa, selama ia komited dengan misi pemerkasaan iman dan ilmu, selama ia berorientasi liberatif-transformatif dalam erti pembebasan jiwa dan minda dari segala bentuk belenggu. Kerana itu para pemikir besar seperti Malik Bennabi melihat pendidikan sebagai bidang paling strategik khususnya dalam konteks era pascakolonial. Baginya perjuangan kemerdekaan tidak selesai hanya dengan mengenyahkan kaum penjajah dari bumi pertiwi. Kemerdekaan tanah air hanya punya erti jika segera diikuti perjuangan mencapai istiqlâl al-‘aql atau kemerdekaan akal budi. Apalah erti pekikan merdeka, andainya umat masih berminda anak jajahan, tidak memiliki sikap percaya diri, tidak mampu berfikir kritis, tidak yakin dengan keunggulan nilai-nilai agama dan budaya sendiri. Agenda perjuangan selepas penjajah angkat kaki inilah juga yang dibicarakan oleh Frantz Fanon dalam konteks Algeria, “Are we fighting just to rid ourselves of colonialism, a necessary goal, or are we thinking about what we will do when the last white policeman leaves?” Ketika membicarakan pendirian Fanon dalam isu ini, Edward W. Said menyatakan “… the goal of the native intellectual cannot simply be to replace a white policeman with his native counterpart, but rather what he called, borrowing from Aime Cesaire, the invention of new souls (Said, 30).”
Pendidikan seharusnya menjadi kekuatan transformatif yang mampu melakukan pencerahan dan pencerdasan demi mencapai matlamat penciptaan new souls (generasi berjiwa baru) tersebut; tetapi kenyataannya, sering kali pula ia dirubah menjadi penjara minda yang membelenggu dan melumpuhkan. Mungkin jenis pendidikan seperti itulah yang dimaksudkan oleh Bertrand Russell dalam kata-katanya, “Men are born ignorant, not stupid; they are made stupid by education.” Siapa yang menyangka, rupa-rupanya memang ada pendidikan yang membodohkan. Keprihatinan terhadap masalah-masalah yang membelit alam pendidikan dan keilmuan kita sebenarnya telah lama diungkapkan. Beberapa dekad yang lalu Malik Bennabi telah membangkitkan isu ‘adam ta’thîr al-muthaqqafîn, ketidakupayaan kaum cendekiawan mempengaruhi masyarakat. Akibatnya, proses pembentukan pemikiran umat terlepas dari bimbingan kaum ilmuwan, dan dengan itu peranan strategik tersebut diambil alih oleh dalang-dalang media yang mempunyai agenda sendiri – politik dan perniagaan. Cendekiawan seharusnya mampu tampil sebagai kekuatan pembimbing umat dalam proses taḥrîrî-tanwîrî (pembebasan-pencerahan) menepati misi ikh’râju ‘n-nâs mina ‘ẓ-ẓulumât ilâ ‘n-nûr (pembebasan manusia dari kegelapan kepada kecerahan). Kehadiran kaum cendekiawan, bukan sekadar untuk menjadi penonton, pencatat atau dokumentator; tetapi kehadiran yang bererti, kehadiran yang mengesankan, kehadiran yang membawa impak positif atau al-ḥuḍûr al-mu’aththir. Cendekiawan Barat, Michael Hart, menyatakan rasa kagumnya terhadap Nabi Junjungan Muhammad s.a.w. kerana kekuatan daya pengaruhnya yang mengatasi semua tokoh berpengaruh yang pernah muncul; lalu dengan yakin beliau menempatkan nama Muḥammad ibn ‘Abdillâh (s.a.w.) di puncak urutan seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Tanpa harus menunggu pengiktirafan Michael Hart, memang Junjungan s.a.w. adalah al-Rasûl al-Murabbî (rasul-pendidik) yang kekuatan pengaruhnya melintas benua, merentas zaman. Malang sekali, kekuatan penting (daya pengaruh) itu tidak lagi dimiliki oleh para ilmuwan sehingga timbul kesangsian, masihkah mereka (ilmuwan lemah itu) tergolong dalam kelompok ulama pewaris anbiya’?
Ketika ini suara kebenaran kaum intelektual seolah-olah telah tenggelam dalam gegak-gempita propaganda politik, tenggelam dalam hiruk-pikuk iklan dagangan, tenggelam dalam jerit-lolong para artis, tenggelam dalam bingit deru motor mat rempit; walhal seperti yang disuarakan oleh Edward W. Said, “…the intellectual is supposed to be heard from, and in practice ought to be stirring up debate and if possible controversy.” Dalam suasana seperti sekarang ini, timbul pula pertanyaan, apakah yang hilang hanya suara intelektual, atau kelompok yang namanya intelektual itu sendiri yang telah hilang? Pertanyaan ini mengingatkan kita kepada judul buku yang ditulis oleh Russell Jacoby, The Last Intellectuals. Akibat pelbagai tekanan, intelektual dalam pengertian ilmuwan-pemikir yang memiliki keberanian menyatakan yang hak, seolah-olah sudah menjadi spesies yang sedang pupus. Yang tersisa hanya ahli-ahli akademik yang telah kehilangan kepedulian sosial, ahli-ahli akademik seperti yang disebut oleh Edward W. Said, “…with secure income, and no interest in dealing with the world outside the classroom. Such individuals, Jacoby alleges, write an esoteric and barbaric prose that is meant mainly for academic advancement and not for social change.”
Kaum ilmuwan adalah pengemban amanah misi taghyîrî, transformasi sosial. Pada saat berleluasanya kemungkaran seperti sekarang ini, mereka seharusnya terpanggil dengan instruksi nabawi: man ra’â minkum munkaran fa ‘l-yughayyirhu… (Sesiapa yang melihat kemungkaran harus segera merubahnya). Hampir semua jenis kemungkaran sudah berlaku, bahkan telah mulai mewabak – pembunuhan, penderaan, pemerkosaan, penghinaan agama, rasuah, penyalahgunaan kuasa, penipuan, perjudian, perampokan, penagihan arak dan dadah, kelucahan dan sebagainya. Di pihak masyarakat pula, sebahagiannya telah menerima kemungkaran-kemungkaran seperti itu sebagai hal yang biasa dan normal. Memang masih kedengaran suara protes di sana-sini, tetapi yang sangat memprihatinkan adalah kebisuan sebahagian para ilmuwan kita. Kiranya dapat dibayangkan nasib yang akan menimpa umat ini apabila para ilmuwannya kehilangan komitmen perubahan sosial, lalu tidak responsif kepada ayat perubahan, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum, sehingga kaum itu merubah apa yang ada pada dirinya” – al-Ra‘d: 11. Firman Allah itu jelas mensyaratkan taghyîr al-nufûs (perubahan jiwa, hati, dan akal budi) jika sesuatu bangsa ingin berubah. Dengan kata lain, tidak akan berlaku social change dan peningkatan martabat tanpa self-reform.
Apabila para ilmuwan telah mengkhianati misi taghyîrî (man ra’â minkum munkaran fa ‘l-yughayyirhu…), lalu bersikap pasif-submisif man ra’â minkum munkaran fa ‘l-yaskut (sesiapa yang melihat kemungkaran hendaklah membisu!), bererti tibalah saat berlakunya bencana sejarah seperti yang pernah menimpa Banî Isrâ’îl akibat pengkhianatan amanah keilmuan para penditanya yang membisu ketika melihat kemungkaran berlaku:
Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan kata-kata dusta, dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.
(al-Mâ’idah: 63)
Merekalah (Yahudi dan Nasrani), golongan yang sememangnya tahu kebenaran seperti tercatat dalam kitab suci mereka, tetapi telah mengkhianatinya, … yuḥarrifûna ‘l-kalima min ba‘ḍi mawâḍi‘ihi (… Mereka mengubah kata-kata [Taurat] dari makna yang sebenarnya…). Merekalah golongan al-maghḍûbi ‘alayhim yang kita sebut ketika membaca surah al-Fâtiḥah. Mereka bukan orang bodoh yang kerana kebodohannya menjadi sesat (al-ḍâllîn). Mereka adalah orang pandai yang tahu kebenaran, tetapi menggelapkannya. Akibatnya mereka ditimpa kutukan murka (al-maghḍûbi ‘alayhim).
Suatu tragedi keintelektualan sebenarnya sedang berlaku. Akibat tekanan dan pesona kemewahan, ramai ilmuwan kita yang bertukar wajah. Kerana takut tampil dengan wajah lama yang dirasakan banyak sialnya, mereka menginginkan wajah baru yang menjanjikan tuah melimpah-limpah. Fenomena perubahan wajah golongan intelektual oportunis inilah yang diekspresikan secara metaforik oleh kiai-budayawan H.A. Mustofa Bisri lewat puisinya, BEDAH PLASTIK:
Beberapa orang yang mengaku
Tim dokter bedah plastik menyekapku
Mereka menjanjikan wajah baru
Yang lebih cantik untukku
Entah mengapa pasrah saja aku
Mula-mula diikatnya tangan dan kakiku
Lalu aku tak sadar lagi apa yang berlaku
Tahu-tahu begitu siuman kuraba mukaku
Ternyata mata, hidung, mulut, dan telingaku
Sudah berubah tempatnya tak seperti dulu
Ajaib, kini di tempatnya yang baru
Mataku hanya melihat yang indah-indah selalu
Sebaliknya hidungku hanya bisa mencium yang berbau
Telingaku hanya mendengar yang merdu-merdu
Tapi mulutku hanya bisa untuk makan melulu
Bagaimanapun mereka menyuruhku
Aku tak berani mengaca atau malu
Melihat mukaku yang tak lagi mukaku.
Bagi kami upacara ini memang amat bererti. Di samping menganugerahkan diploma, ia juga mengamanahkan suatu tanggungjawab keilmuan: pelaksanaan misi pencerahan dan pencerdasan umat. Kerana itu kejayaan anda seterusnya akan diukur, tidak hanya berdasarkan apa yang anda peroleh dengan diploma KDH, tetapi lebih daripada itu akan diukur berdasarkan kemampuan anda melaksanakan misi tersebut. Graduan Dar al-Hikmah sebenarnya adalah jelmaan impian besar mencipta generasi ilmuwan ulu ‘l-albâb, cendekiawan yang mengalami pencerahan akal budi, setia dalam pengabdiannya kepada Tuhan, tekun dalam kebaktiannya kepada umat. Mudah-mudahan semangat Dar al-Hikmah akan terus abadi, menyatu dengan jiwa nurani para graduannya. Semoga nyala semangat tersebut akan memadukan kita semua dalam tekad dan perjuangan menjayakan visi dan misi institusi tercinta ini. Dar al-Hikmah tidak akan menjadi sekadar kenangan masa lalu, tetapi suatu komitmen perjuangan kolektif para graduan, alumni dan seluruh warganya.
Demikianlah yang sempat kami ucapkan, bukan sekadar basa-basi ceremonial, tetapi suara hati seorang yang dibebani amanah membina generasi al-mu’min al-qawî (mukmin yang kuat), seorang yang sentiasa ketakutan andainya sampai meninggalkan generasi dhurriyyatan ḍu‘afâ’, generasi lemah yang mudah dibeli dan dibuli.
KDH 29122014